Features


JESU UFAM TOBIE! YESUS ENGKAULAH ANDALANKU!

By Christine Lerin,

Pertemuan rutin bulanan Komunitas Kerahiman Ilahi St Gabriel Pulo gebang minggu ke-4 bulan November ini, diisi dengan mengadakan misa dan adorasi kerahiman Ilahi di Kapel Gereja St.Gabriel pada hari Jum’at, tanggal 22 November 2019.  Umat yang datang, menuliskan permohonan mereka pada secarik kertas yang telah disediakan dan dikumpulkan dalam wadah toples, kemudian diletakkan di altar sebelum misa dimulai untuk dapat diberkati saat sesi doa umat. Komunitas KKI  kali ini khusus mengundang RD Victorius Rudy Hartono untuk mempersembahkan misa dan adorasi , karena Romo Rudy adalah termasuk salah satu devosan kerahiman Ilahi yang aktif turut serta menyebarkan kerahiman dalam setiap pelayanannya.Ikut pula bersamanya 5 orang frater, dari seminari tinggi St Yohanes Paulus II Jakarta yang dipimpin beliau, dan tentu saja kehadiran tamu spesial dalam misa kali ini menambahkan spirit kerahiman bagi KKI St Gabriel.

Tepat pukul 19.30 misa dimulai setelah sebelumnya umat secara bersama-sama mendaraskan doa Koronka yang dipimpin oleh Bu Leoni dilanjutkan dengan lagu pembukaan “Saudara Mari Semua” dari puji syukur 322.  Tiga intensi utama misa saat itu adalah : yang pertama untuk para pengurus KKI StGabriel pulo gebang agar senantiasa diberikan kesehatan, kesabaran , kerendahan hati dan kekuatan  untuk dapat lebih mengasihi sesama dalam melayani , kedua untuk ke 57 peserta yang sudah mendaftar sebagai pembaca buku harian St Faustina agar dapat diberikan rahmat dan hikmat mengenai kerahiman Allah melalui buku harian St Faustina yang dibacanya dan ketiga, ucapan syukur dari sebuah keluarga atas terkabulnya doa permohonan mereka.

Dalam homilinya, Romo Rudy menceritakan pengalaman pribadinya tentang bagaimana awalnya menjadi seorang devosan kerahiman Ilahi, yang baru  benar-benar dihayatinya selama 2 tahun belakangan ini. Berawal dari serangan jantung yang dialaminya, sehingga harus pasang ring , namun ternyata masih berkelanjutan dengan serangan berikutnya. Dalam  setiap serangan berulang di dada yang membuatnya kesakitan, dia selalu menyebut “Jezu Ufam Tobie”( Yesus Engkaulah Andalanku) berulang-ulang sampai serangan mereda dan hilang. Romo Rudy berjanji jika diberi waktu lebih lama untuk hidup, akan menyebarkan kerahiman Ilahi setiap saat dalam segala kesempatan. Janji kepada Tuhan dipenuhi. Setelah diberi kesehatan dia menjadi salah satu devosan kerahiman Ilahi, yang begitu bersemangat  mencari jiwa-jiwa untuk dikembalikan kepada Tuhan. Romo Rudy berusaha menghidupkan kembali kegiatan komunitas kerahiman, dan menyebarkan devosi kerahiman kemana-mana. Di seminari, di paroki-paroki saat membawakan misa. Romo Rudy juga mengajak para devosan, untuk tidak pernah lupa berdoa pada jam kerahiman yaitu setiap pukul 15.00 dimanapun kita berada, membaca buku harian Santa Faustina – karena itu adalah “kitab suci kerahiman” yang wajib dibaca, serta sesering mungkin berdoa Koronka. Mendaraskan Koronka juga berarti berdoa untuk seluruh dunia. Jalan kerahiman adalah jalan yang sangat luar biasa yang ditawarkan kepada kita dalam menghadapi dunia. Siapa yang menyebarkan kerahiman akan ditolong Tuhan pada saat kematiannya, iman kita akan menjamin keselamatan kita, demikian pesan romo Rudy diakhir homilinya.

Setelah homili, misa dilanjutkan dengan adorasi Sakramen Maha Kudus, komuni serta berkat penutup. Romo memberkati agar para devosan terutama yang hadir pada misa malam ini memperoleh kerahiman Allah dan terus mencari jiwa-jiwa, dan semoga devosi kerahiman menjadi tuntutan untuk disebarluaskan di paroki-paroki. Misa ditutup dengan lagu “Aku Memandang” yang merupakan salah satu lagu devosi kerahiman Ilahi. Walaupun lagu ini baru didengar dan masih terasa asing ditelinga para devosan KKI St. Gabriel, namun tetap dinyanyikan para devosan dengan penuh iman.

Seluruh rangkaian misa selesai pada pukul 21.15. Sebelum acara dilanjutkan dengan ramah tamah dengan makanan yang disediakan oleh pengurus KKI, ketua KKI, pak Yoseph Gunarto, memberikan pengumuman bahwa   misa malam ini menandai akan dimulainya grup membaca BHF ( buku harian Faustina ) pada hari senin tanggal 25 november yang akan datang, dengan peserta yang sudah mendaftar saat ini sebanyak 57 orang peserta. Tujuan dari gerakan membaca BFH dalam KKI ini adalah agar para devosan semakin mengenal lebih dalam tentang kerahiman Ilahi melalui tulisan Santa Faustina, Sang Rasul Kerahiman. Semoga Santa Faustina mendoakan kita semua kepada Tuhan Yesus (yang merupakan sumber kerahiman itu sendiri), agar senantiasa menyertai, membimbing dan menerangi pikiran, akal dan budi kita selama membaca BHF dari halaman pertama hingga halaman terakhir sehingga  bisa menyelesaikan satu buku. Jezu Ufam Tobie !!

 

Limut/Er

Indah dan Sucinya Seks Jadi Tema Rekoleksi Marriage Encounter

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Ada yang berbeda pada hari itu, Sabtu, 12 Oktober 2019, di aula GKP lantai 3. Tidak biasanya tampak wajah-wajah ceria bapak-bapak yang ganteng dan pasangannya yang cantik-cantik, telihat di sana. Ya, hari itu Marriage Encounter (ME) rupanya tengah mengadakan kegiatan. Mereka bekerja sama dengan Seksi Kerasulan Keluarga dan Persekutuan Doa (PDPKK) mengadakan rekoleksi sehari untuk pasutri dan perseorangan. Tema yang diusung adalah, Menuju Keluarga Bahagia, Seks Itu Suci dan Indah.

Tema yang dipilih kali ini memang agak berbeda. Mungkin pula ada yang menganggapnya vulgar lantaran  tradisi ketimuran kerap menilai tak patut membicarakan seks secara terbuka. Seks, sekalipun itu dalam bingkai perkawinan, masih dianggap sesuatu yang sangat tertutup dan merupakan privasi yang tidak layak dibicarakan secara terbuka didepan publik. Namun disinilah daya tarik dari rekoleksi dengan tema ini.

Seks menjadi salah satu unsur yang mau tidak mau, suka tidak suka, adalah konsekwensi dari perkawinan. Seks menjadi bagian penting dari sepasang anak manusia membina dan meningkatkan relasi suami istri dalam suatu perkawinan yang sah, yang terbekati dalam sebuah sakramen. Seks menjadi sesuatu yang suci dan indah yang akan menghasilkan buah-buah cinta yaitu keturunan (anak-anak), untuk membangun sebuah keluarga yang bahagia. Ini juga menjadi tujuan utama dari setiap perkawinan

Acara yang dimulai pada pukul 08.00 dibuka dengan lagu pujian  Keluarga Cemara yang dinyanyikan Tim PDPKK lalu dilanjutkan dengan sambutan dari RD Susilo Wijoyo sebagai Pastor Kepala Paroki Pulo Gebang. Selanjutnya, Koordinator ME Paroki Santo Gabriel, Pasutri Wahyu & Ivon. Selanjutnya berturut-turut para pemateri yakni Romo Susilo Nugroho CP , yang membawakan materi tentang Seksualitas Perkawinan dari Sudut Pandang Gereja dan Dr. Tony Gosal yang khusus datang dari Bali, membawakan materi tentang Seksualitas dari Sisi Kedokteran. Ta lupa, dua pasutri yakni Elly & Rusly serta Fonny & Jeffry dari Tim ME dalam bagian sharing.

Romo Suslio dalam paparannya mengatakan bahwa ada dua tujuan utama dari perkawinan. Pertama, Bonum Prolis (demi keturunan): Dasar biblis Kej 1: 26-30, firman Allah untuk beranak cucu dan bertambah banyak serta penuhilah bumi, serta Kej 2 : 18-25…sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah ibunya dan bersatu dengan istrinya ( ayat 24 ). Kedua, Bonum Coniugum (kesejahteraan suami istri demi intimitas): Arti sakramen perkawinan : Suami adalah tanda rahmat kehadiran Tuhan bagi isterinya, dan isteri adalah tanda rahmat kehadiran Tuhan bagi suaminya. Ini merupakan transformasi dari dicintai menjadi mencintai (aspek mental/rohani), dari menerima cinta (biologis dan dominasi) menjadi memberi cinta (berkorban).

Perkawinan Katolik mempunyai 3 ciri yang khas yaitu : 1. Ikatan yang harus berlangsung seumur hidup antara laki-laki dan perempuan,  2. Ikatan monogami, yaitu satu suami dan satu istri, 3. Ikatan yang tidak terceraikan.

Romo Susilo dalam bagian penutup menyampaikan suatu anjuran yang membuat semua peserta tertawa. Ia menyarankan para pasutri agar mulai membiasakan diri dengan berdoa bersama terlebih dahulu sebelum dan sesudah melakukan kegiatan seksualitas perkawinan mereka. Karena seksualitas itu adalah suatu hal yang suci yang merupakan anugerah Allah kepada manusia sehingga dalam melakukannya, manusia perlu melibatkan Tuhan.

Sesi kedua dibawakan oleh pasutri Elly & Rusly yang menjelaskan tentang bagaimana pasutri memperoleh keindahan seksualitas. Mereka menjabarkan pengertian seks dalam arti luas dan sempit. Seks dalam arti sempit hanyalah tempat tidur dan sebuah altar perkawinan. Dalam arti luas, seks adalah segala aktivitas atau komunikasi kasih dengan bahasa cinta dalam kehidupan suami istri yang menuju kedekatan dan keintiman. Misal, suami mencium kening isteri saat akan berangkat kerja.

Menurut mereka, setiap pasutri harus mempunyai bank cinta, yaitu rekening yang dibuka dalam bank milik pasangan dimana, setoran yang menambah saldo bukan berupa uang melainkan berupa: sifat, tingkah laku, perhatian, dukungan atau apa saja yang positif atau menyenangkan bagi pasangan karena hal yang tidak menyenangkan akan mengurangi saldo di bank tersebut.

Mereka juga mengingatkan bahwa kebutuhan dasar antara wanita dan pria tidak sama, sehingga harus saling mengisi satu sama lain. Kebutuhan dasar wanita adalah afeksi, komunikasi, kejujuran dan keterbukaan, dukungan keuangan, dan komitmen untuk keluarga. Sedangkan kebutuhan dasar pria adalah pemenuhan seksual, teman yang menghibur, pasangan yang menarik, dukungan dan kekaguman. Karena itulah untuk memperoleh keindahan seksualitas dalam perkawinan, relasi dengan pasangan harus baik, membangkitkan gairah dengan menyiapkan perasaan dan pikiran. Karena ahli jiwa menyatakan, organ seksual utama adalah otak, berarti sebelum tubuh bereaksi pikiran yang bereaksi terlebih dahulu.

Saat istirahat makan siang pada pukul 12.15,  panitia memberi kejutan kepada pasutri Jeffry & Fonny yang hari itu merayakan HUP ke 20. Wahyu & Ivon membawa kue ulang tahun dengan lilin menyala kedepan mimbar diiringi lagu Selamat Ulang Tahun yang dinyanyikan oleh Tim PDPKK. Lalu panitia memanggil pasutri peserta yang berulang tahun di bulan oktober untuk maju kedepan dan merayakan bersama HUP mereka.

Sesi ke tiga dimulai kembali pada pukul 13.00, dengan sharing dari pasutri Jeffry & Fonny. Mereka membagikan cerita tentang jatuh bangunnya kehidupan seksualitas dalam perkawinan mereka, sampai akhirnya mereka ikut Weekend ME dan mulai saling memahami satu sama lain. Mereka menjadi semakin terbuka terhadap pasangan, berani mengemukakan apa yang mereka inginkan dan butuhkan dari pasangan dengan  meningkatkan dialog kepada pasangan lewat ciri khas ME yaitu BPS (bagaimana perasaan saya).

Seksualitas yang tadinya tidak pernah dibahas karena dianggap hanya suatu kewajiban dalam perkawinan sehingga menjadi beban, dengan komunikasi dan keterbukaan mereka setelah mengikuti Weekend ME, berubah menjadi sesuatu yang indah dan  menyenangkan. Keterbukaan dan pengertian yang terbangun dari komunikasi bahasa cinta mereka telah menjadikan seksualitas bukanlah sekedar nafsu tapi sesuatu yang suci dan indah sebagai pasangan  sah yang diikat oleh Allah dalam sakramen perkawinan.

Sesi terakhir dibawakan oleh Dr. Tony Gosal yang didampingi isteri. Ia menjelaskan seksualitas dari 5 aspek, yaitu aspek biologis, psikososial, perilaku, klinis dan kultural. Dari sisi medis atau klinis, ia menjelaskan segala hal yang berkaitan dengan seksual, gejala PMS dan menopause yang akan dialami oleh wanita juga andropause yang akan dialami oleh  pria. Tak lupa, ia juga memaparkan tentang apa saja gejala disfungsi seksual pada wanita dan pria. Dr. Tony di bagian ahir memberi kesimpulan bahwa seks adalah suatu alat bantu untuk keharmonisan rumah tangga, sementara komunikasi  adalah kunci keberhasilan kegiatan seksualitas. Yang terpenting adalah kesehatan jasmani dan rohani karena dua aspek ini memegang peranan penting untuk seks.

Setelah seluruh sesi selesai, para peserta diberikan kesempatan untuk bertanya dimana pertanyaan dituliskan pada selembar kertas. Dibatasi hanya 10 pertanyaan. Semua pertanyaan itu dijawab bergantian oleh pembicara sesuai bidang dan kompetensinya. Pertanyaan yang berkaitan dengan hal medis dijawab oleh Dr Tony. Yang berkaitan dengan hal rohani dijawab oleh Romo Susilo.

Tepat pukul 15.00 ,seluruh peserta dan panitia mengikuti Misa penutup bersama Romo Susilo. Setelah Misa dengan bergandengan tangan, peserta dan panitia menyanyikan lagu tema ME  “Ada dunia Baru”….Ada dunia baru, negeri harapan, ku kan sampai disana bila kau membimbingku, kuharapkan selalu kau ada disampingku karena hanya kau yang berarti bagiku….. Dengan berakhirnya lagu itu, berakhir pula seluruh rangkaian acara rekoleksi sehari  yang dihadiri oleh 100 peserta. Tepat jam 16.15, kegiatan ditutup setelah dilakukan foto bersama. (Penulis dan Foto: Limut / Editor: Ferdinand Lamak)

Doa Rosario, Semuanya Berawal Dari Sini

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Rosario adalah salah satu doa yang paling diterima oleh berbagai kalangan di lingkup Gereja Katolik. Romo A. Susilo Wijoyo dalam Misa Pembukaan Bulan Rosario, 1 Oktober silam bahkan mengatakan bahwa ini adalah doa yang paling populer di dalam Gereja Katolik. Mulai dari Paus Fransiskus, Bapa Uskup, Pastor, Suster, Bruder hingga umat, semua mendoakan doa ini. 

Dikutip dari catholiceducation.org, tidak dapat dipastikan sejak kapan doa ini diperkenalkan. Demikian juga, penggunaan bulir-bulir sebagai alat bantu doa (yang kini lebih dikenal sebagai rosario atau kontas) telah dipergunakan di biara-biara sejak jaman gereja awal, bahkan sebelumnya. Ada bukti dari Abad Pertengahan bahwa untaian manik-manik digunakan untuk menghitung doa Bapa Kami dan Salam Maria.

Struktur rosario pun berevolusi secara bertahap antara abad ke-12 dan ke-15. Akhirnya, 50 Salam Maria dibacakan dan dihubungkan dengan ayat-ayat mazmur atau frasa lain yang memperingati atau mengenangkan kehidupan Yesus dan Maria. Pada periode ini, doa ini pun lebih dikenal sebagai rosarium (“kebun mawar”). Selama abad ke-16, struktur rosario lima peristiwa yang didasarkan pada tiga rangkaian peristiwa, gembira, sedih dan mulia.

Santo Dominikus yang meninggal pada 1221, dialah yang merancang doa rosario seperti yang saat ini kita kenal. Ia tergerak oleh penglihatannya akan Bunda yang Terberkati ini, hingga ia mewartakan penggunaan rosario dalam karya misionarisnya di antara para Albigensia, yang telah menyangkal misteri Kristus sebagai jelmaan Allah menjadi manusia.

Apa yang dilakukan oleh Santo Dominikus ini memang tidak terdokumentasi dalam riwayat hidupnya maupun konstitusi Dominikan bahwa dirinya yang menyusun doa ini, namun perannya mengajarkan doa kepada umat pada masa itu sangat besar.

Pada tahun 1922, Dom Louis Cougaud menyatakan, “Berbagai elemen yang masuk ke dalam komposisi rosario adalah produk dari perkembangan yang panjang dan bertahap yang dimulai sebelum masa Santo Dominikus, yang berlanjut tanpa ia memiliki andil dalam itu, dan yang hanya mencapai bentuk akhirnya beberapa abad setelah kematiannya.” 

Doa rosario semakin popular di sekitar tahun 1600-1700 an, terutama setelah kemenangan pasukan Kristen di Lepanto, di tahun 1571. Saat itu, negara- negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman, sehingga terdapat ancaman yang genting bahwa agama Kristen akan terancam punah di Eropa. Jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia.

Menghadapi ancaman ini, Paus Pius V memerintahkan umat Katolik untuk berdoa rosario untuk memohon dukungan doa Bunda Maria, agar pasukan Kristen memperoleh kemenangan. Perintah ini dilakukan oleh Don Juan (John) dari Austria, komandan armada, demikian juga, oleh umat Katolik di seluruh Eropa untuk memohon bantuan Bunda Maria di dalam keadaan yang mendesak ini.

Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario di basilika Santa Maria Maggiore. Sejak subuh sampai petang, doa rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto. Walaupun nampaknya mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober tersebut.

Fakta bahwa Gereja Katolik terus memasukkan Perayaan Rosario Kudus dalam kalender liturgi, menjadi sebuah kesaksian tentang betapa pentingnya dan manfaat dari doa ini. Uskup Agung Fulton Sheen mengatakan, “Rosario adalah buku orang buta, di mana jiwanya melihat dan di sana ada drama cinta terbesar yang pernah ada di dunia. Kekuatan rosario tak terlukiskan.” (Penulis: Ferdinand Lamak)

(Disadur dari Tulisan Pastor William Saunders dalam Kolom “Stright Answer” yang dimuat dalam Arlington Catholic Herald)

Kelahiran KKI Santo Gabriel, Bukti Kebesaran Tuhan Lewat Hamba Pilihan

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Umat beriman yang selalu aktif dan penuh dengan sukacita dalam melayani Tuhan dan sesama adalah impian dari semua gereja dalam pengertian yang sesungguhnya. Paroki Pulo Gebang patut bersyukur karena pada tahun ini, tepatnya Mei 2019 Paroki Pulo Gebang tumbuh lagi sebuah kelompok kategorial baru. Mereka adalah Komunitas Kerahiman Ilahi (KKI), sebuah komunitas orang beriman yang mendedikasikan dirinya untuk selalu melakukan devosi Katolik  dengan fokus pada cinta belas kasihan Allah dan keinginan untuk membiarkan cinta dan rahmat tersebut mengalir melalui hati seseorang terhadap orang-orang yang membutuhkan hal itu.

Tiga hal utama dalam devosi  ini adalah, meminta dan mendapatkan kerahiman Allah, percaya kepada rahmat Kritus yang berlimpah, serta menunjukan kerahiman kepada sesama dan bertindak sebagai saluran untuk kemurahan Allah terhadap mereka.

Adalah Leoni, seorang ibu yang mengisahkan cerita di balik berdirinya komunitas ini. Ia menjadi orang yang mendapatkan rahmat dan ditugaskan langsung oleh Tuhan sebagai pembawa Misi Kerahiman Ilahi. Anda mungkin berpikir bahwa Leoni adalah seorang aktifis gereja sehingga dipilih Tuhan untuk perkara yang satu ini. Tidak! Leoni memang salah satu umat di Paroki St. Gabriel Pulo Gebang, namun selama ini tidak aktif mengikuti kegiatan kategorial apapun di paroki. Ia pun bukan seorang devosan Kerahiman Ilahi, Ia bahkan tidak tahu apa-apa tentang apa itu devosi Kerahiman.

Tuhan, melalui Roh Kudus pun bekerja, dan jika kekuatan dahsyat ini sudah bekerja maka tak ada yang mustahil untuk terjadi.  Tepatnya April 2018, Leoni memutuskan untuk mulai aktif mengikuti kegiatan Legio Maria. Empat bulan berselang, tepatnya Agustus 2018, saat Ia sedang mengucapkan janji Legio, sekonyong-konyong ada dorongan yang begitu kuat dari dalam hatinya, yang muncul begitu saja dan memintanya untuk menemui Joseph Gunarto. Siapa itu Gunarto, ia pun pun tidak begitu mengenalnya, kecuali diketahuinya sebagai katekis yang mengajar puteranya saat hendak menerima komuni. Dia sendiri pun bingung dengan dorongan yang dirasakannya itu.

“Untuk apa saya harus menemui Pak Joseph?” begitu kira-kira pertanyaan yang terbersit di dalam benaknya. Ia penuh dengan ketidakmengertian. Dorongan itu sempat Ia abaikan. Namun semakin diabaikan, semakin terus muncul dan tidak pernah berhenti ia memikirkannya. Ia jadi tidak tenang hingga pada Februari 2019, Ia menceritakan kegelisahannya tersebut kepada ketua lingkungannya. Ia pun diarahkan untuk menghubungi Joseph Gunarto dan minta waktu bertemu.

Leoni pun bertandang ke kediaman Gunarto. Saat Leoni datang dan masuk kerumah itu, matanya terpaku pada gambar Kerahiman Ilahi berukuran besar di kediaman Gunarto yang nota bene seorang devosan Kerahiman Ilahi. Hatinya berdebar kencang. Keduanya sempat bingung dan ditengah kebingungan mereka, mengapa Leoni mendapat dorongan untuk menemui Gunarto dan apa yang dapat Gunarto lakukan untuk Leoni, mereka berdua pun memulai dengan obrolan ringan. Obrolan yang mengarah kepada sharing pribadi pengalaman sang tuan rumah sendiri tentang bagaimana hidupnya diubah dan banyak pertolongan yang ia dapatkan sejak mengenal dan melakukan devosi Kerahiman Ilahi.

Rupanya, di Paroki St. Gabriel pun sekitar tahun 2008, Gunarto pernah mempunyai komunitas kecil Kerahiman Ilahi namun aktifitas komunitas itu pun terhenti saat ia harus pindah ke luar kota. Saat  Gunarto tengah membagikan pengalamannya tentang Kerahiman Ilahi, lagi-lagi Leoni mendapat dorongan untuk mengatakan sesuatu. ”Pak, ayo bapak bangkitkan lagi komunitas Kerahiman Ilahi di paroki.”

Gunarto ragu dan menjawab dengan penolakan karena hal itu tidak mudah. Harus mendapatkan ijin pastor paroki. Namun ia berjanji untuk membawakan niat itu dalam doa.

Sejak pertemuan tersebut, Leoni terus menerus mengajak Gunarto untuk membangkitkan kembali komunitas Kerahiman Ilahi yang pernah mereka jalankan dahulu. Namun, selalu pula dijawab bahwa belum ada jawaban dan petunjuk dari doanya.

06 – 07 April 2019, Leoni mengikuti Retus (retret perutusan ) KEP angkatan 13 dimana ia menjadi salah satu pesertanya. Pada malam pencurahan Roh Kudus, dengan jelas Leoni mendapatkan penglihatan gambar Kerahiman Ilahi dalam bentuk kecil seperti yang dilihatnya di rumah GUnarto. Penglihatan itu pun membuatnya merasa bersalah dan minta didoakan oleh Romo Suyatno yang hari itu datang mendampingi peserta Retus untuk sesi pengakuan dosa sebelum pencurahan Roh Kudus.

Romo Suyatno ternyata seorang devosan Kerahiman juga. Ia pun memotivasi Leoni agar dapat mewujudkan misi Kerahiman Ilahi dengan berbicara kepada Pastor Kepala Paroki. Esok harinya, tanggal 07 April 2019, secara mengejutkan, Romo Susilo datang menggantikan Romo Gunawan yang mendadak tidak bisa datang untuk membawakan misa penutupan dan perutusan. Pada kesempatan inilah, Leoni pun menceritakan semua yang dialaminya. Romo Susilo mendengarkan dengan seksama dan tanpa diduga ia mengatakan, “Ibu, silahkan jalankan dan wujudkan misi kerahiman yang ibu terima, saya mengijinkan dan mendukung.”

Sukacita dalam hati Leoni tak tergambarkan dan sepulang Retus, Ia langsung menyampaikan kabar baik ini kepada Gunarto. Keduanya pun diliputi sukacita. Mereka pun bertemu kembali dengan Romo Susilo dan  proses pembentukan komunitas Kerahiman Ilahi pun dimulai. Semua proses berjalan dalam bimbingan Tuhan hingga gambar Kerahiman Ilahi yang akan dipakai oleh komunitas itu pun diberkati pada Misa Pesta Kerahiman Ilahi,  hari Minggu kedua setelah Paskah oleh Romo Gunawan.

Pertemuan perdana Komunitas Kerahiman Ilahi  ( KKI ) St. Gabriel diadakan pada Jumat, 24 Mei 2019, di GKP Lt 2 Ruang Lukas 24. Sebanyak 24 orang umat paroki hadir dalam pertemuan itu. Selanjutnya secara rutin,  devosi Kerahiman Ilahi akan diadakan dua kali sebulan, setiap Jumat ke 2 dan ke 4, pada pukul 19.30- 21.00 diruang itu.  Komunitas Kerahiman Ilahi pun sah menjadi salah satu kelompok kategorial di paroki ini, yang ditandai dengan pelantikan pengurus KKI periode 2019- 2022 pada saat Misa Perayaan HUT Paroki St Gabriel ke 24.

Para pengurus KKI Santo Gabriel antara lain: Joseph Gunarto sebagai Ketua, Leoni Togatorop sebagai Wakil Ketua dan Anastasia Ngoei sebagai Bendahara. Sebagai sarana komunikasi komunitas, dibentuklah grup whatsapp KKI Santo Gabriel.

Sejak dibentuk pada Mei 2019, jumlah devosan KKI terus bertambah dan per Agustus, KKI Santo Gabriel sudah memiliki 60 orang devosan. Semua bersyukur dan berterimakasih kepada Allah Yang Maha Baik, karena kebesaranNya dan belas kasihNya-lah, misi yang disampaikan melalui Leoni ini dapat terwujud. Kesaksian iman ini, sebelumnya sudah kisahkan Leoni kepada para devosan KKI pada saat pertemuan komunitas.

Tuhan menunjukkan kuasaNya dan sungguh ajaib cara Tuhan bekerja. Ia memakai Leoni dan Joseph Gunarto secara luar biasa. Umat “biasa” (tidak aktif dan tidak pernah tahu tentang kerahiman Ilahi), telah dipertemukan dengan seorang devosan Kerahiman Ilahi untuk menyelesaikan misi kerahiman.  Semua ini tentu dapat terjadi, karena belas kasih kasih Allah kepada umat Paroki St Gabriel Pulo Gebang. Kelahiran KKI Santo Gabriel adalah bukti kebesaran Tuhan lewat hamba pilihanNya.

Tuhan telah menunjukkan kebesaranNya maka patutlah jika KKI mengajak seluruh umat Paroki St. Gabriel Pulo Gebang untuk bersama-sama berdevosi kepada Kerahiman Ilahi melalui doa Koronka dan doa Jam Kerahiman seperti pesan yang disampaikan sendiri oleh Yesus kepada rasul kerahiman yaitu Santa Faustina yang dituangkan dalam buku hariannya yang terkenal dan dipakai sebagai dasar pemahaman dan pengetahuan mengenai Kerahiman Allah yaitu BUKU HARIAN FAUSTINA ( BHF ) 1167 : Setan sangat membenci Kerahiman Allah , ia tidak mau mengakui bahwa Allahitu baik.

Mari kita berdevosi Kerahiman Ilahi dengan mengucapkan: Yesus, Raja Kerahiman Ilahi, Engkaulah andalanku. (Penulis: Lily Imut/Editor: Ferdinand Lamak)

Damainya Suasana Ramadan dan Perayaan Lebaran di Vatikan

By Ferdinand Lamak,

Merayakan Idul Fitri di Indonesia, tentu saja berbeda dengan mereka yang merayakannya di negeri yang tidak banyak umat Islam. Jangankan di negara yang berbeda, suasana Idul Fitri  pada kota-kota besar di Jawa tentu saja berbeda dengan kota-kota seperti Jayapura, Manado, Kupang dan Denpasar. Kendati demikian, bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa hingga merayakan Hari Raya Idul Fitri selalu dihormati. Seperti yang terjadi di Vatikan, negara kecil yang dikenal sebagai pusat Agama Katolik di dunia itu.

Memang, Duta Besar RI untuk Takhta Suci Vatikan kali ini adalah seorang Katolik. Antonius Agus Sriyono, alumnnus Kolese De Britto tahun 1975 ini, memiliki dua orang staf beragama Islam di KBRI Vatikan. Dubes sebelumnya, Budiarman Bahar, bertugas sejak Desember 2011 sebelum ia digantikan oleh Sriyono, yang dilantik pada Januari 2016 silam.

Bahar sebagaimana dikutip dari UCANews, mengatakan tidak ada yang berbeda dari Ramadan di Indonesia dan Vatikan. Sekalipun ia berada di negara pusat Katolik dunia, umat Islam disana bebas menjalankan ibadah puasa dan marayakan Idul Fitri sebagaimana di Indonesia.

”Meski di sini umat Islam termasuk minoritas, kami bebas beribadah. Tidak ada larangan apa-apa. Bahkan, kami dihormati,” ujarnya.

Ia bersama staf di KBRI serta para duta besar dan staf kedubes dari negara-negara Islam seperti Iran, Mesir, Lybia sungguh merasakan bagaimana Ramadan dan Idul Fitri mereka dihormati oleh penduduk di Vatikan yang hampir 100% beragama Katolik.

Moschea di Roma, Masjid di Kota Roma (Foto: Wikipedia)

KBRI Vatikan sendiri menaungi para pastor, suster dan bruder asal Indonesia yang bertugas di Vatikan, di gereja-gereja dan biara-biara baik di Vatikan maupun di sekitarnya.

Lantas bagaimana tradisi buka puasa bersama atau halal bihalal dilakukan di Vatikan dalam lingkup KBRI? Bahar pun berkisah, tradisi ini pun tetap dilakukan sekalipun mayoritas yang hadir adalah para pastor, suster dan bruder.

”Itulah toleransi antarumat beragama yang konkrit. Mereka (pastor dan suster) akan datang bila diundang dalam acara-acara tradisi umat Islam itu. Seperti halnya bila mereka datang untuk acara sosialisasi pemilu atau perayaan hari kemerdekaan RI,” papar Bahar.

”Saat buka bersama ditutup dengan doa secara Islam, mereka ikut dengan khusyuk berdoa dengan cara mereka sendiri,” imbuhnya.

Yang tidak dapat dirasakan oleh pria Minang ini di Vatikan adalah, bagaimana bunyi suara tiang listrik yang dipukul saban dinihari untuk membangunkan orang yang hendak sahur. Juga merdunya suara adzan yang bersahut-sahutan dari masjid-masjid yang ada di Indonesia.

Asal tahu saja, di Vatikan, umat Islam disana memiliki satu masjid yang disebut Moschea di Roma atau Masjid Roma. Masjid ini dibangun secara berpatungan oleh sejumlah negara, termasuk Indonesia. Ada 23 negara totalnya. Masjid ini dibangun diatas lahan yang cukup luas, sekira 3 hektar luasnya.

Di dalam masjid inilah, umat Islam pun menjalankan ibadah mereka selama Ramadhan kemarin hingga Idul Fitri pada hari ini. Semuanya berjalan dalam suasana penuh kedamaian dan kerukunan.

Tahun ini, kepada umat Islam di seluruh dunia, Dewan Kepausan Vatikan untuk Dialog Antaragama (PCID) menyampaikan pesan Ramadan dan Idul Fitri 1440 Hijriah. Vatikan berharap momentum Ramadan dan Idul Fitri bisa menjadi perekat persaudaraan dengan umat Kristiani. Dewan kepausan juga meminta kepada umat Kristen dan Islam di seluruh dunia untuk mempromosikan budaya dialog.

“Vatikan menyerukan kepada umat Kristen dan Islam di seluruh dunia untuk mempromosikan persaudaraan dan keharmonisan dengan membangun jembatan persahabatan serta mempromosikan budaya dialog di mana kekerasan ditolak dan kemanusiaan lebih dihormati,” bunyi pernyataan seperti dilaporkan Vatikan News.

Sementara itu, khusus untuk masyarakat Indonesia Anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, Pater Markus Solo Kewuta, SVD menyampaikan ucapan Selamat Idul Fitri secara khusus. “Semoga damai sejahtera menyertai kita semua. Perayaan ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperat persaudaraan dan kebersamaan sebagai sesama warga bangsa.”

Tidak hanya itu, Dubes Antonius Agus Sriyono bersama sejumlah biarawan-biarawati dari Indonesia dalam sebuah orkestra sederhana pun menyampaikan ucapan Selamat Lebaran dalam nada dan lagu sebagaimana yang dapat disaksikan pada link youtube berikut ini: https://www.youtube.com/watch?v=igaXuCJ4tx0&pbjreload=10

Vatikan dan warganya telah menunjukkan bagaimana penghargaan terhadap umat Islam yang menjalankan ibadah agamanya. Semoga Indonesia, negara dengan ragam agama dan suku ini tetap damai dalam perbedaan dan saling menghormati satu sama lain. Selamat Hari Lebaran, Minal Aidin Wal Faizin. Mohon Maaf Lahir dan Batin. (FL)