Berita Lingkungan


Menutup Pendalaman Adven di Taman Doa Regina Rosari

By Deny Kus Indarto,

Memasuki masa Adven yaitu masa menyambut Kelahiran Tuhan Yesus, seperti biasa di setiap lingkungan di paroki mengadakan pendalaman iman adven selama 4 kali pertemuan. Demikian juga Lingkungan Santo Albertus, Paroki Pulo Gebang, kali ini menutup pertemuan adven ke-4 dengan mengadakan ziarek ke Cirebon.

Sabtu (14/12/19) pagi, sebanyak 28 umat Lingkungan Santo Albertus berangkat bersama dari Pulo Gebang Permai menuju Cirebon. Di awali dengan doa bersama, lalu kami menikmati perjalanan selama empat jam menuju Cirebon. Sesampainya di Cirebon, tujuan pertama kami adalah Taman Doa Regina Rosari.

Taman Doa Regina Rosari merupakan salah satu wisata rohani katolik yang berlokasi di Cirebon. Di dalam Taman Doa Regina Rosari, kami langsung menuju salah satu pendopo yang sudah dipersiapkan untuk mengadakan Pendalaman iman yang ke-4. Pendalaman Iman diawali oleh lagu-lagu pujian yang dipimpin oleh Ibu Tuti Justinus, renungan dipimpin oleh Pak Justinus Soekidjo, dan untuk kegiatan dipimpin oleh Julie dan Maria Taolin.

Setelah Pendalaman iman selesai, kami mengelilingi Taman Doa Regina Rosari. Ada yang mengujungi Goa Maria Regina Rosari, berdoa di Ruang Adorasi, hingga berfoto-foto di taman. Setelah itu, kami menuju salah satu rumah makan chinese food untuk makan siang.

Menutup Ziarek, kami mengunjungi pusat perbelanjaan Batik Trusmi untuk sekedar melihat ragam batik ataupun belanja untuk oleh-oleh. Batik Trusmi merupakan karya seni dari Cirebon yang awalnya mulanya berasal dari daerah Trusmi karena daerah Trusmi sering mendapat pesanan batik dari keraton Cirebon.

Tak terasa, waktu sudah semakin sore. Setelah berbelanja, kami langsung menuju Jakarta. Dalam perjalanan kami sempatkan berhenti di KM 62 untuk malam malam bersama, setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Jakarta dan tiba di Pulo Gebang Permai sekitar pukul 21.30. (Maria Octavia / den)

Lingkungan Sta. Clara Ziarek ke Purwokerto

By gabriel,

Sudah menjadi kegiatan rutin dalam 2 tahun terakhir ini, umat Lingkungan Sta. Clara mengadakan ziarah lingkungan. Setelah sebelumnya kami pergi ziarah ke Cisantana Kuningan, tahun ini tujuan yang ditetapkan adalah Gua Maria Kaliori dan OSK (Oasis Sungai Kerit) Melung, keduanya terletak di Purwokerto dan tidak lupa objek wisata Baturraden. Udara pegunungan yang masih segar tampaknya menjadi pertimbangan utama panitia dalam menentukan tujuan ziarah tahun ini.
Persiapan pun dimulai 2 bulan sebelum hari keberangkatan, baik berupa survey tempat oleh beberapa umat, yang dikomandoi oleh Bapak Rudi Rudolf sebagai Ketua Lingkungan dan juga Ketua Panitia, maupun booking tempat penginapan, konsumsi, transportasi dan tidak lupa segala bentuk buku panduan doa yang nantinya akan dipergunakan pada saat ziarah.

Tak terasa hari yang dinantipun tiba, 41 orang umat Lingkungan Sta. Clara (mulai dari balita sampai lansia) memulai perjalanan ziarah pada Jumat, 4 Oktober 2019. Rombongan berangkat dari Royal Residence sekitar pukul 10 malam. Kurang lebih 9 jam perjalanan ditempuh pada malam itu dan sekitar pukul 07:30 pagi, keesokan harinya, kami sampai di pendopo Gua Maria Kaliori.

Setelah membersihkan diri sejenak, kamipun memulai aktifitas hari itu dengan sarapan soto ayam bumbu kacang dengan lauk tempe mendoan. Acara ziarah hari itu diawali dengan Doa Jalan Salib. Menyesuaikan dengan tema ziarah yang kami canangkan: “Ad Jesum Per Mariam” (menuju Yesus melalui Maria), kami menggunakan Doa Jalan Salib dalam sudut pandang Bunda Maria . Ada 15 perhentian dalam Jalan Salib di Gua Maria Kaliori, dengan perhentian ke-15 adalah: “Yesus Bangkit Dari Antara Orang Mati”. Hal ini selaras dengan Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, no 134, yang menyatakan: “Jalan Salib adalah devosi yang terkait dengan sengsara Kristus. Namun harus diakhiri sedemikian rupa sehingga kaum beriman berada dalam harapan akan kebangkitan dalam iman dan pengharapan, mengikuti contoh Jalan Salib di Yerusalem yang diakhiri di Gereja St Anastasia (artinya, kebangkitan), perayaan dapat diakhiri dengan kenangan akan kebangkitan Tuhan.”

Rute jalan salib di Gua Maria Kaliori tidaklah terlalu panjang dan jalan yang dilalui sudah baik dimana hampir seluruh jalan sudah dibuat tangga. Hanya pada antara perhentian ke-12 dan ke-13 yang masih berupa pasir karena sedang dalam pengerjaan. Suasana doa yang terbangun khusuk diawal-awal perhentian, berubah menjadi bising dan sedikit bau solar mulai perhentian ke-11 karena memang sedang ada pekerjaan konstruksi di sekitar area gua. Di sekitar area gua, kita juga bisa menemukan Taman Doa Rosario, sebuah tempat berupa tembok melingkar yang dibentuk menyerupai dinding gua dan pada dinding bagian dalam terdapat gambar dari 3 peristiwa dalam Doa Rosario: Gembira, Sedih dan Mulia.

Acara ziarah di Gua Maria Kaliori selesai sekitar pukul 11 siang (ditutup dengan Doa Rosario dan Novena Tiga Salam Maria), dan setelah mampir sebentar untuk membeli kenang-kenangan, kami melanjutkan perjalanan menuju penginapan di Villa Ebony (di depan pintu masuk objek wisata Baturraden). Untuk mengisi acara bebas, beberapa orang menyempatkan diri bermain di Taman Labirin (salah satu tempat bermain di objek wisata Baturraden).

Pukul 4 sore kami berkumpul lagi untuk menuju Gereja Katedral Kristus Raja guna mengikuti perayaan Ekaristi. Satu hal yang menarik adalah salah satu intensi dalam Misa tersebut adalah untuk mendoakan mendiang Romo LBS Bambang Wiryo Wardoyo, Pr., salah satu romo yang pernah melayani di Paroki Pulo Gebang. Rangkaian acara hari ini kami tutup dengan sebuah game yang diikuti semua keluarga dan doa malam bersama.
Dalam kuasa-Mu ya Bapa, kami serahkan segala hal yang boleh kami terima pada hari ini, kehadirat-Mu. Jagai kami malam ini dalam istirahat kami, juga keluarga yang kami tinggalkan di Jakarta.

Hari Minggu, 6 Oktober 2019 kami melanjutkan aktifitas kami menuju pertapaan awam OSK di Desa Melung. Kondisi jalan yang kecil, naik turun dan berlika-liku, mengharuskan kami menyewa mobil kecil (angkot) untuk menuju lokasi tersebut. Setelah sampai di tempat parkir, kami harus berjalan naik untuk bisa menuju lokasi, perjalanan yang lumayan berat bagi sebagian umat Lingkungan Sta. Clara yang berbadan besar nan tambun. Tetapi dengan segala usaha dan upaya, kami semua bisa sampai di Gua Maria Melung untuk mendaraskan doa Rosario dan Novena Tiga Salam Maria. Suasana yang kurang kondusif di Goa Maria Kaliori pada hari sebelumnya, terbayar lunas ketika kami berada di OSK. Tidak hanya udara yang masih sangat segar karena berada di daerah pegunungan, beberapa tempat doa dibangun sedemikian rupa sehingga bisa lebih mendukung suasana doa maupun berfoto ria. Kurang lebih pukul 11 siang, kami kembali ke penginapan untuk persiapan pulang menuju Jakarta. Setelah mengisi perut dengan makan siang, kamipun kembali ke Jakarta. Tidak lupa mampir sejenak ke pusat oleh-oleh untuk membeli getuk goreng, keripik tempe dan jajanan khas Purwokerto lainnya.

Terbayang kembali segala rutinitas yang menunggu kami di Jakarta, paripurna sudah acara ziarah kali ini. Dengan berbekal keteladanan Bunda Maria, semoga masing-masing keluarga Lingk. Sta. Clara diberikan karunia kesetiaan, ketaatan, ketabahan dan kerendahan hari dalam menjalani segala tugas dan perutusan kami masing-masing. Inilah keluarga kami, Lingkungan Sta. Clara, sampai jumpa dilain kesempatan.

(penulis:d2t/ foto:Rudy, Frans GL)

Talk Show tentang Bunda Maria di Wilayah 14

By gabriel,

Pertemuan bulan Maria kali ini di Wilayah 14 Paroki Pulo Gebang, tampak berbeda dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Biasanya pertemuan bulan Maria, diisi dengan Doa Rosario dan atau dilanjutkan dengan Doa Novena Tiga Salam Maria. Namun pertemuan kali ini, tepatnya pada tanggal 11 Mei 2019 di rumah Ibu Indah Naruli Metland Menteng, diisi dengan Talk Show tentang Bunda Maria, dengan nara sumber Romo Aloysius Susilo Wijoyo, Pr.

Acara ini digagas oleh pengurus Lingkungan Sta. Stefani Wilayah 14, yang kemudian timbul ide untuk membuat acara ini menjadi acara wilayah, dengan mengundang umat lingkungan lain di Wilayah 14, yaitu Lingkungan Sta. Angela dan Sta. Lucia.

Umat yang hadir berjumlah 52 orang, yang terdiri dari 12 orang dari Lingkungan Sta. Lucia, 12 orang dari Lingkungan Sta. Angela dan 28 orang dari Lingkungan Sta. Stefani.

Lebih kurang pukul 7 malam, umat mulai berdatangan. Awal mulanya, umat menduga, acara tersebut adalah ibadat yang akan dipimpin oleh Romo Susilo Wijoyo. Namun diawal acara, umat yang datang langsung dipersilahkan untuk menyantap makanan dan aneka jajan pasar. Umat mulai merasakan suatu acara yang beda dari biasanya. Meja untuk ibadat, yang awalnya sudah disusun rapi oleh tuan rumah, oleh Sie Acara digeser ke ujung, menjauh dari umat, kemudian digantikan dengan 3 buah kursi, seperti sebuah studio dalam acara Talk Show Profesional. Beberapa umat mulai bertanya-tanya, acara apa yang akan diikuti? Mau ibadat, tapi diawali dengan makan malam. Meja ibadat, dipindahkan juga.

Usai makan malam, tepatnya pukul 19:30, acarapun dibuka oleh Prajogi Sadikin, yang akrab dipanggil Pak Yogi, sebagai pembawa acara. Diawali dengan lagu pujian dan doa, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Koordinator Wilayah 14, Nicodemus Herman. Tidak ketinggalan, sebuah motivasi dari Motorvator Lingkungan Stefani, Yoriko Aprilianto, yang juga memberikan sebuah quiz berhadiah khusus untuk anak-anak. Quiz tersebut adalah untuk anak yang berani memimpin sebuah doa untuk Bunda. Tampak dengan berani, seorang anak bernama Renatha Anabel memimpin doa untuk Bunda.

Sesaat kemudian, acara intipun dimulai. Pembawa acara mengundang Hendri Arkhyanta, sebagai moderator acara. Sungguh tampak tidak berbeda dengan Talk Show di TV swasta Nasional, pembahasan, informasi dan tanya-jawab tentang Bunda Maria, disampaikan dengan sangat jelas oleh Romo Susilo dan beberapa kali diwarnai dengan canda tawa bersama umat yang hadir.

Acara di Wilayah 14 kali ini sungguh luar biasa. Umat semakin mengetahui tentang Bunda Maria, yang diperoleh dari nara sumber yang kredibel. Salah satu pertanyaan dari umat yaitu “mengapa disebut Bulan Maria, Bulan Rosario dan kapan? Mei atau Oktober? Dengan sangat jelas Romo memberikan informasi tentang sejarah Bulan Maria dan Bulan Rosario. Sebagian penjelasan Romo ada di video berikut :

Kemudian acara ditutup dengan doa, yang dibawakan oleh Maria Caroline Wiyono, selaku DPH Pendamping Wilayah 14, yang kebetulan juga tinggal di Lingkungan Sta. Stefani.

Umat yang hadir sangat puas dengan acara ini karena menambah pengetahuan dan lebih mengenal Bunda Maria. Semoga acara-acara sejenis dapat diadakan lagi.
Bravo Wilayah 14 !!!

-Dion S-

Belajar dari Keluarga Allah

By Christine Lerin,
(Keseruan Adven Minggu ke-2 di Lingkungan St. Mikael)

Menyongsong masa Adven “menunggu kedatangan Yesus” seperti biasa setiap lingkungan mengadakan rekoleksi bulan keluarga, tema tahun 2018 ini adalah KELUARGA BERBICARA. Setelah minggu sebelumnya melaksanakan rekoleksi adven ke-1 di rumah salah satu umat, adven ke-2 ini lingkungan St Mikael mengadakan di aula Sekolah SMK Caraka, Sabtu (8/12) malam. Sebanyak 22 umat mulai dari anak-anak hingga lansia hadir dalam rekoleksi ini.

Sesuai buku pedoman dari Komisi Kerasulan Keluarga KAJ ada 2 aktivitas di subtema ‘Belajar dari Keluarga Allah”. Aktivitas ke-1 adalah gambar kelompok, umat yang hadir dibagi menjadi 2 kelompok. Masing-masing kelompok berbaris ke belakang untuk menyelesaikan tema gambar yang sudah ditentukan secara bergantian, 1 orang hanya boleh melukis 1 goresan dalam waktu 5 detik. Keseruan muncul karena setiap individu secara bergantian meneruskan gambar dari teman didepannya, seterusnya hingga 2 putaran. Gambar yang dihasilkan tentu tidak sempurna, oleh karena itu di akhir aktivitas, ketua kelompok mempresentasikan gambar yang dihasilkan.


Aktivitas ke-2 tidak kalah menarik karena setiap kelompok harus menjawab 8 pertanyaan dari buku panduan dan ditulis di papan tulis. Keseruan terjadi saat bongkar pasang jawaban untuk menghasilkan 2 kata yang dituju. Setelah semua menyelesaikan jawaban yang benar, peserta diminta membagikan pendapat (sharing) tentang komunikasi khususnya di dalam keluarga.
Dari hasil sharing, pemandu berharap semangat berkomunikasi dalam keluarga semakin meningkat, seperti yang tercermin di dalam 2 aktivitas tadi. Karena tanpa komunikasi yang lancar maka masing-masing anggota akan memiliki asumsi dan tujuan yang berbeda, yang pada akhirnya bisa menimbulkan kesalahpahaman. Tentu hal ini akan menghambat pertumbuhan dan kemajuan komponen kelompok apapun yang dalam kontek ini adalah komponen masyarakat terkecil yaitu keluarga. Walaupun hanya mendapat kesempatan untuk membuat goresan dalam waktu yang singkat, tetapi setiap orang dalam kelompok memegang peranan dalam mencapai tujuan akhir. Setiap anggota keluarga turut berpartisipasi dalam berpikir, berkeputusan, bertindak dan merasa dilibatkan untuk mencapai tujuan bersama. Kita juga diajar untuk bercermin dan belajar dari “Keluarga Allah”, Bapa, Putra dan Roh Kudus yang saling melengkapi satu sama lain. Rasa syukur bahwa kita diciptakan saling berbeda, saling memperkaya, dan melihat kebhinekaan sebagai suatu hadiah dari Tuhan.

(@denykus , Erin)

Misa Syukur di Tengah Perbedaan

By Christine Lerin,

Selasa pagi yang cerah (20/11/2018), hari itu adalah hari libur nasional (Maulid Nabi Muhammad SAW 1440 H), umat lingkungan St. Mikael Paroki Pulogebang disibukkan dengan persiapan misa syukur di keluarga Bapak Eldi dan Ibu Lina.

Tampak seperti misa biasa tetapi lokasinya yang sungguh luar biasa karena misa diadakan di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Pulogebang yang lokasinya tidak jauh dari Gereja St. Gabriel Paroki Pulogebang, tepatnya di Blok G lantai 4 no 12. Awalnya tidak terbayang bisa mengadakan misa di tempat ini, karena selain lokasi rusunawa adalah rumah berpetak yang per blok terdiri dari 5 lantai, sepanjang lorongnya dihuni oleh puluhan keluarga yang berbeda suku, agama dan golongan.

Tepat pukul 08.00 WIB, sekitar 35 umat hadir dan duduk di depan tangga lantai 4, mengikuti misa syukur yang dipersembahkan oleh Romo A. Setya  Gunawan, Pr dalam rangka pemberkatan rumah dan HUT perkawinan Bapak Eldi & Ibu Lina yang ke-10. Romo Gunawan mengungkapkan sukacitanya karena mendapatkan pengalaman yang luar biasa, baru kali pertama mengadakan misa di rusunawa ini. “Sudah sejak lama keinginan saya untuk bisa tinggal di rusun ini,” canda Romo, memecah keheningan. Bahkan beliau juga mengungkapkan keinginannya untuk mengunjungi setiap keluarga katolik yang ada di rusunawa. Menurut data Biduk, ada sekitar 15 KK Katolik di rusunawa pulogebang yang menyebar di 8 Blok.

Di akhir misa, Ibu Lina mewakili keluarga mengucapkan terimakasih sebesarnya kepada Romo Gunawan dan umat lingkungan yang sudah hadir dan berdoa untuk keluarganya, misa berjalan lancar dan penuh sukacita. Juga berkat dukungan para tetangga yang telah bersedia memberikan ruang dan toleransinya, hingga lingkungan Mikael boleh mengadakan misa syukur di blok G4 ini. Ibu Lina menceritakan pengalamannya yang pernah tinggal di sekitar pacuan kuda Pulomas, karena terkena dampak penggusuran maka sekarang sudah 2 tahun tinggal di rusunawa Pulogebang, keinginannya mengundang Romo akhirnya bisa terwujud. (Penulis @denykus, Editor : Erin, Foto : Denykus)