Berita Paroki


Semangat Tabut Umat St.Gabriel Menuai Apresiasi

By Christine Lerin,

Pada bulan Desember 2019, tepat 3 tahun Tabut KAJ periode 2016 berakhir. Bersyukur
atas berjalannya Tabut KAJ selama 3 tahun pertama ini, Tim Karya Pembangunan Paroki (TKPP)
Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) mengundang seluruh PIC Tabut paroki di bawah naungan KAJ pada
Sabtu, 14 Desember 2019 untuk menghadiri misa syukur sekaligus acara ramah tamah.

Misa syukur dilaksanakan pada pk. 09.30 di gereja Hati Kudus paroki Kramat dipimpin
oleh Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, Pr. dan dilanjutkan dengan acara syukuran dan ramah tamah
di aula Vincentius. Pada kesempatan ini, TKPP KAJ memberikan penghargaan dalam bentuk piagam
kepada paroki-paroki yang terlibat aktif dalam kepesertaan Tabut dengan beberapa kategori sebagai
berikut ;

Selain itu, sesuai dengan misi Tim Karya Pembangunan Paroki (TKPP) yang artinya
berfokus untuk membantu paroki-paroki yang masih terkendala dana dalam proses pembangunan
baik gereja, pastoran maupun gedung karya pastoral dalam lingkup Keuskupan Agung Jakarta
(KAJ) – paling tidak untuk sementara ini. Apabila seluruh paroki di dalam KAJ dirasa sudah tidak ada
lagi yang mengalami kesulitan dalam pembangunan, sangat dimungkinkan bantuan akan diberikan
lintas keuskupan.

Berikut ini adalah paroki-paroki yang menerima solidaritas dari hasil bunga Tabut KAJ, masing-masing sebesar Rp 1 milyar :

Jl. Malang (St. Igt. Loyola) untuk pembangunan GKP

Kutabumi (St. Gregorius Agung) untuk pembangunan pastoran

Bekasi (stasi Yoh. Paulus) untuk pembangunan gereja

Bekasi utara (St. Clara) untuk pembangunan pastoran

Citra Raya (St. Odilia) untuk pembangunan gereja

Kita patut bersyukur dengan menabung minimal Rp 100,000 per bulan selama 36 bulan
ternyata bunga yang dihasilkan dari seluruh peserta dapat membantu paroki lain yang
membutuhkan. Sampai artikel ini diturunkan, jumlah peserta Tabut dari paroki Pulo Gebang tercatat
sebanyak 620 orang dengan total tabungan sebesar Rp 3,930,436,988,- dan tingkat kepesertaan
rutin/aktif menabung sebanyak 91%. Persentase ini adalah yang paling tinggi jika dibandingkan
dengan paroki lain se-dekenat Timur.

Paroki Pulo Gebang mengucapkan terimakasih kepada seluruh umat yang telah ikut
berpartisipasi menabung di TABUT periode 1. Semoga ke depannya dapat terus ikut berpartisipasi
untuk melanjutkan lagi di periode 2 dan seterusnya. Tuhan memberkati.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Tabut KAJ, silahkan menghubungi

PIC Paroki

Maria Caroline Wiyono (08111552918)

Sita (081262909679)

PIC Wilayah

I. Rietje

II. Milana

III.Linda Santoso

IV. Monika/Vivi

V. Belum ada PIC

VI. Belum ada PIC

VII. Henny Sandra

VIII. Emillia

XI. Inggaryani

XII. Andriyani

XIII. EndangDwiPalupi

XIV. Anna Maria

XV. Belum ada PIC

XVII. Sherly Natalia

 

(Maria Caroline Wiyono)

Barbeku Menuai Sukacita

By Christine Lerin,

Matahari baru saja akan beranjak naik ketika keramaian mulai nampak di Rusun Pulojahe. Hilir mudik ibu-ibu berkaos hijau, saling bahu membahu menyiapkan showcase dan barang-barang yang sangat banyak. Seolah-olah ingin mendahului matahari yang terus bergerak naik, ibu-ibu ini semakin bergerak lebih cepat lagi.

Semangat pagi yang terpancar dari ibu-ibu WKRI Cabang Santo Gabriel terlihat semakin jelas ketika akhirnya pakaian selesai digantungkan dan barang-barang sudah tertata untuk siap dijual. Ibu-ibu yang jumlahnya belasan ini sudah siap untuk menerima kedatangan  pembeli dari masyarakat sekitar Rusun Pulojahe.

KegiatanBarbeku (barang bekas berkualitas) ini sudah diadakan untuk kedua kalinya di tahun ini, setelah bulan Agustus lalu. “Tujuan dari kegiatan Barbeku adalah untuk menyalurkan barang-barang berkualitas kepada yang membutuhkan dengan harga yang terjangkau,” kata Ibu Henny, Ketua WKRI Cabang St. Gabriel.“Barang-barang bekas dikumpulkan dari anggota ranting dengan syarat masih layak pakai,” tambahnya lagi untuk menjawab asal usul barang-barang tersebut.

Persiapan ibu-ibu WK menggelar barbeku

Pada pukul 08.00 masyarakat sudah mulai datang sesuai undangan yang dijadwalkan. Ibu-ibu WK juga sudah siap diposisinya masing-masing. Dengan penuh keramahan, masyarakat diajak untuk melihat-lihat dan membeli barang-barang yang dijual, layaknya pedagang profesional. Ada baju, celana, tas, sepatu, bahkan perabotan rumah tangga. “Donasi barang bekas berkualitas cukup banyak dan variatif. Banyak juga diantara barang yang kami terima, kondisinya masih baru, belum pernah dipakai,” terang Ibu Henny.

Barang-barang yang dijual memang ada yang terlihat masih dengan kemasan rapi. Ada juga yang masih terbungkus plastik dari laundry bermerk. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pembeli. Keceriaan saat itu pun tidak terlepas dari kesulitan-kesulitan sebelumnya. “kesulitan utama adalah mencari lokasi yang tepat untuk berjualan, supaya tepat sasaran,” kata Ibu Henny menjelaskan. “Selain masalah sortir barang, juga perlunya tempat penyimpanan barang-barang donasi yang cukup banyak serta mengumpulkan bantuan ibu-ibu untuk berjualan,” tambahnya lagi.

wajah sukacita pembeli

Penjualan akhirnya ditutup pukul 12.00 sesuai jadwal. Kelelahan melayani pembeli terbayar dengan banyaknya barang yang terjual. Wajah lelah dengan penuh senyum tetap terpancar hingga masyarakat meninggalakan lokasi. Masyarakat pun terlihat senang dan puas  dengan barang-barang yang dibelinya. Dana yang terkumpul cukup menyenangkan dan semua akan digunakan untuk kegiatan-kegiatan WK. Semoga acara Barbeku yang berjalan lancar ini bisa bermanfaat untuk masyarakat Pulojahe.

Christine/Er/WK

Baksos WKRI dan Posyandu Pulojahe

By Christine Lerin,

Berbagi kebahagiaan kembali dilakukan oleh ibu-ibu dari Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang St.Gabriel. Bersama dengan ibu-ibu pengurus Posyandu Pulojahe, WK Paroki Pulogebang melakukan kegiatan bakti sosial. Kegiatan yang rutin dilakukan tiap tahun ini adalah salah satu kegiatan dari program kerja  bidang kesra WK. Kegiatan berupa peningkatan gizi anak-anak yang berada pada garis merah dan kuning menurut standar kartu sehat.

Kegiatan sosial ini dilakukan 4 kali dalam bulan Oktober 2019, yaitu diadakan setiap hari Sabtu tiap minggu selama bulan Oktober 2019. Dimulai dari tanggal 5 sampai 26 Oktober 2019.  Kegiatan sosial yang dimulai pada pukul 07.00 hingga 09.00 ini, bertujuan meningkatkan gizi untuk anak-anak. Dengan kegiatan ini diharapkan WK bisa membantu pemerintah dalam program meningkatkan pengetahuan ibu-ibu di sekitar Pulojahe mengenai gizi yang baik untuk anak-anak balita mereka.

Pelayanan pemeriksaan pada balita

Hadir ibu Henny (Ketua Cabang) dan 2 orang dari Bidang Kesra WKRI yang diketuai oleh Ibu Esthy, didampingi oleh dokter Willy yang memberikan pelayaan pemeriksaan baksos di Posyandu Pulojahe. Tampak wajah gembira para ibu yang membawa serta anak-anaknya sejumlah sekitar 35 anak hadir dalam ruangan Posyandu Pulojahe yang cukup besar untuk mendapatkan pelayanan.

Pelayanan pemeriksaan berat badan balita

Sebelum pulang, semua anak-anak diberikan makanan sehat  yang disajikan dengan menarik. Nasi yang berbentuk Micky Mouse, sayur bayam, agar-agar dan buah-buahan. Tidak lupa diberikan pula susu SGM yang sesuai umur anak dan 6  butir telur. Diharapkan dengan makanan yang disajikan dengan menarik dapat menjadi contoh untuk ibu-ibu dirumah, supaya anak-anak menyukai sayur. Diakhir acara dengan semangat semua bernyanyi ‘Anak Sehat’ bersama-sama. Puji Tuhan acara berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Terimakasih ibu-ibu WKRI.

 

Christine/Er/WKRI

Romo Susilo: Hidup Cuma Sekali, Setelah Itu Mati, Maka Harus Berarti

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Kalimat pada judul diatas adalah pesan penting yang disampaikan oleh Romo Susilo Wijoyo, Pr. pada misa peringatan arwah semua orang beriman yang jatuh setiap tanggal 02 November. Misa di Gereja Santo Gabriel, Pulo Gebang diadakan bersamaan dengan misa biasa pada hari Sabtu pukul 17.00. Sama seperti tahun-tahun yang lalu, umat datang ke gereja membawa foto-foto keluarga dan sahabat yang sudah meninggal dunia, yang hendak didoakan dalam misa itu. Foto-foto itu seperti biasa diatur dengan rapih berjejer dibawah altar. Tahun ini jumlah foto tampaknya jauh lebih banyak daripada tahun sebelumnya.

Berbicara soal kematian, bukanlah sesuatu yang menyenangkan dan membuat nyaman. Namun harus disadari bahwa mau tidak mau, setiap orang akan mengalami dan menghadapinya. Ada yang pergi  dan ada yang ditinggal pergi.

Umat Katolik patut bersyukur, secara khusus setiap tahunnya, gereja di seluruh dunia mengadakan misa peringatan untuk mendoakan semua arwah orang-orang beriman yang telah meninggal dunia. Saat itu, doa dipanjatkan untuk memohon belas kasih Allah bagi mereka yang sudah meninggal dunia.

Doa dipanjatkan, bukan hanya bagi anggota keluarga yang foto-fotonya dibawa pada hari itu, namun juga bagi sahabat, saudara, kenalan yang ada dihati dan pikiran masing-masing. Terutama bagi arwah-arwah yang berada di api penyucian karena mereka semua masih sangat membutuhkan doa-doa dari umat yang masih hidup. Doa ini akan membantu mereka untuk mendapatkan pengampunan dan belas kasih Allah, agar kerinduan mereka untuk segera bersatu dan berjumpa dengan Allah dapat terwujud.

Homili yang dibawakan oleh Romo Susilo pada hari itu mengupas dua hal yakni, bacaan injil yang diambil dari Lukas 19: 1-10 dan tentang tujuan pengenangan arwah orang beriman yang diperingati oleh gereja Katolik pada tanggal 02 November setiap tahunnya. Tentang bacaan dari injil yang menceriterakan Zacheus atau Zakeus seorang kepala pemungut cukai, Romo Susilo mengatakan, Zacheus adalah pendosa karena memperkaya dirinya dengan memeras uang rakyat. Dengan jabatannya yang begitu tinggi itu, Zacheus mau merendahkan harga dirinya sampai rela naik keatas pohon Ara ( karena badannya pendek ) hanya untuk berusaha melihat Yesus ketika dia mendengar bahwa Yesus akan melewati rumahnya. Kerinduannya untuk dapat berjumpa dengan Yesus jauh lebih besar daripada harga dirinya, yang terbalaskan dengan bersedianya Yesus untuk menumpang dirumahnya.

Syukur seorang Zacheus diungkapkan dengan berjanji kepada Yesus untuk memberikan setengah dari harta miliknya kepada orang miskin dan mengembalikan 4x lipat kepada orang yang telah diperasnya. Yesus berkata kepada Zacheus bahwa ada keselamatan dirumahnya pada hari itu juga. Bagi Zacheus dan semua manusia, keselamatan itu lebih penting dari segalanya.

Romo pun mengupas tema yang kedua, yakni tentang makna dan tujuan misa mengenang arwah orang beriman. Ini dimaksudkan agar manusia yang masih hidup didunia lewat ekaristi mengenang arwah orang beriman ini, diingatkan senantiasa untuk selalu berjaga-jaga karena filosofi kematian hanya ada dua : 1. Pasti , artinya semua orang pasti akan meninggal 2. Tidak Pasti, artinya orang tidak tau persisnya kapan dia akan meninggal.

Dua filosofi itu membuat manusia harus selalu berjaga-jaga. Maka gereja mengingatkan umat, setahun sekali setiap tanggal 02 November untuk mengadakan misa ini. Disamping itu, bukan hanya diingatkan oleh gereja, tapi manusia juga diingatkan tentang kematian pada banyak kesempatan lain. Misal saat menghadiri pemakaman saudara, sahabat atau kenalan yang meninggal atau saat datang kerumah duka. Semua manusia harus ingat bahwa semua yang ada pada dirinya selama hidup didunia, hanyalah titipan Tuhan. Hidup cuma sementara, tidak ada yang akan dibawa saat meninggal nanti. Mengenai hal ini Romo Susilo memberi contoh kisah di Alkitab yaitu perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh ( Lukas 12: 13-21 ) dan orang  muda yang kaya raya ( Matius 19: 16-26).

Orang yang sudah dibaptis bersama Yesus akan mati bersama Yesus dan akan bangkit bersama Yesus, hanya Yesuslah yang akan membawa semua manusia untuk sampai pada keselamatan. Karena suatu hari nanti, suatu saat nanti, manusia pasti akan mengikuti jejak orang-orang yang ada difoto yang selalu  didoakan pada misa peringatan arwah orang beriman ini.

Pada orang yang sudah meninggal yang tertinggal hanya perbuatan apa yang banyak dilakukannya didunia. Jika banyak berbuat kejahatan, maka saat meninggal yang akan tertinggal hanyalah ingatan akan kejahatan yang telah dilakukan, demikian pula sebaliknya. Maka, banyak-banyaklah berbuat kebaikan semasa masih hidup didunia ini, maka saat meninggal, yang tertinggal adalah ingatan akan semua kebaikan yang telah dilakukan. Hanya kedua hal itulah yang akan dikenang saat manusia meninggal nanti. Semua perbuatan baik atau semua perbuatan jahat yang telah dilakukan saat masih hidup. Diakhir homilinya, Romo Susilo mengajak umat untuk merenungkan 3 kalimat, “Hidup cuma sekali, setelah itu mati, maka harus berarti.”  Berkah Dalem. (Editor: Ferdinand Lamak, Penulis: Limut, Foto: Limut dan Th. Iwan Darmawan)

Prosesi Lilin dan Lantunan Nderek Dewi Maria, Tutup Bulan Rosario

By Ferdinand Lamak,

PULO GEBANG – Setelah satu bulan penuh di bulan Oktober umat Katolik sedunia menjalankan devosi kepada Bunda Maria, Bulan Rosario ini pun ditutup pada 31 Oktober 2019 silam. Begitu pula dengan umat di Paroki Santo Gabriel Pulo Gebang, perayaan Bulan Rosario pun ditutup melalui Misa Kudus pada 31 Oktober 2019. Doa Rosario memang tidak hanya dipanjatkan pada bulan Oktober atau Bulan Maria pada Mei saja. Setiap saat umat kapan saja dapat berdevosi kepada Bunda Maria. Namun gereja Katolik mendedikasikan kedua bulan itu sebagai Bulan Rosario dan Bulan Maria. Pada bulan itu, umat melaksanakan berbagai kegiatan dengan berdoa rosario dan novena bersama di lingkungan, wilayah, komunitas maupun secara pribadi. Bulan Rosario diawali dengan misa pembukaan pada tanggal 01 Oktober yang lalu.

Misa penutupan dipimpin  oleh Romo Alphonsus Setya Gunawan, Pr. dimulai tepat pada pukul 19.00. Sebelumnya setiap umat yang datang  seperti pada saat misa pembukaan, kali ini pun masing-masing diberikan satu buah lilin didalam cup yang akan dinyalakan pada saat prosesi arak-arakan menuju ke Gua Maria  ( rumah hening ) setelah misa selesai oleh petugas dari komunitas Legio Maria.

Dalam homilinya, Romo Gunawan mengutip bacaan injil dari kalender liturgi hari tersebut yakni Lukas 13 : 31-35 dimana Yesus menyebut Herodes sebagai “serigala” ketika diberitahu oleh orang farisi bahwa Herodes hendak membunuh Dia. Mengapa Yesus menyebut Herodes serigala? “Karena dalam konteks lain, binatang serigala selalu menjadi ancaman bagi domba-domba karena serigala berniat membunuh dan memangsa domba-domba yang ditemuinya. Yesus adalah Anak Domba Allah, dan Herodes berniat membunuhnya, karena itulah Yesus menyebut Herodes dengan sebutan serigala”.

Yesus juga mengatakan kepada murid-muridnya dalam Matius 10:16 …Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

“Maka sebenarnya dalam kehidupan kita sebagai manusia, kita tidak pernah bisa untuk merasa benar-benar aman didunia ini, karena ancaman sudah ada sejak jaman dulu kala, dari jaman Yesus sudah ada, bahkan jauh sebelumnya dari jaman manusia pertama yaitu Adam dan Hawa, ancaman dari iblis itu sudah muncul dalam bentuk ular, yang dipakai untuk menggoda Hawa melanggar perintah Tuhan,” ujar Romo Gunawan.

Mengapa kali ini iblis berbentuk ular dan bukan serigala? “Karena wanita selalu tertarik kepada yang elok, yang gemulai, maka jika wanita akan menjadi takut dengan serigala, berbeda dengan ular yang bisa meliuk-liuk seperti menari sehingga menarik perhatian Hawa. Karena itulah dengan mudah iblis mendekati Hawa sehingga membuat Hawa jatuh kedalam godaan iblis, sang ular.”

Wanita pertama yang digoda dan jatuh kedalam godaan adalah Hawa, maka Bunda Maria, yang adalah seorang wanita pilihan Allah berhasil mengalahkan godaan dengan tetap setia dan taat kepada perintah dan kehendak Allah untuk mengandung putraNya yang kudus, menjadi simbol “Hawa yang baru.”

Jika Wanita pertama berhasil dikalahkan oleh bujukan ular untuk menjadi tidak taat dan melanggar perintah Allah, maka Bunda Maria adalah wanita pilihan Allah yang berhasil mengalahkan si “ular” untuk tetap setia dan taat kepada perintah Allah. Maka dalam setiap patung Bunda Maria, kita dapat melihat kaki Maria yang menginjak ular sebagai simbol bahwa Bunda Maria telah mengalahkan iblis. Iblis ini yang berhasil mengalahkan  Hawa dalam rupa ular tersebut.

Menutup homilinya, Romo Gunawan mengajak umat untuk selalu berdoa rosario bukan hanya saat Bulan Rosario namun sesering mungkin karena doa “Salam Maria” yang kita ucapkan dalam setiap untaian manik-manik rosario adalah senjata yang luar biasa ampuh melawan “serigala-serigala dan ular-ular” yang akan selalu berniat membinasakan kita ”domba-domba Allah.”  Melalui doa rosario, Bunda Maria akan selalu membantu dan melindungi kita mengalahkan segala ancaman dari yang jahat.

Setelah misa selesai, lilin dalam cup yang telah dibagikan kepada umat dinyalakan dan dimulailah prosesi arak-arakan lilin. Didahului oleh putra putri Altar memimpin perarakan dengan memegang salib besar, diikuti oleh prodiakon, umat dan Romo Gunawan. Dengan tertib, umat berbaris dengan memegang lilin yang sudah dinyalakan ditangan, berjalan  bersama menuju rumah hening, diiringi lagu Ave Maria yang dinyanyikan oleh Koor.

Jika pada saat misa pembukaan sudah penuh tertata rapih patung Bunda Maria yang akan diberkati oleh Romo diatas sebuah meja didalam rumah hening, kali ini tidak ada lagi patung, hanya meja dan lilin. Saat tiba di rumah hening,  di depan patung Bunda Maria, Romo Gunawan langsung memimpin umat menyanyikan lagu Nderek Dewi Maria, sebuah lagu karya seniman Djaduk Ferianto. Umat pun serempak ikut bersama-sama menyanyikannya, masih dengan lilin yang bernyala di tangan.

Doa di depan Bunda Maria pun usai, romo dan para petugas liturgi kembali ke sakristi dan umat ada yang bergegas pulang, ada juga yang melanjutkan dengan doa pribadi di depan patung Bunda Maria. Per Mariam ad Jesum. (Penulis dan Foto: Limut, Editor: Ferdinand Lamak)