Berita


Uskup Kardinal Suharyo Secara Resmi Rilis, 2020 Tahun Keadilan Sosial KAJ

By Ferdinand Lamak,

Uskup KAJ, Kardinal Ignatius Suharyo saat membawakan Surat Gembala Tahun Keadilan Sosial KAJ, 2020

Ada yang berbeda dalam perayaan ekaristi hari Minggu pada pekan ini. Homili sepanjang misa pada hari raya Penampakan Tuhan (Epifani) ini diisi dengan surat gembala KAJ yang dibawakan sendiri oleh Uskup Kardinal Ignatius Suharyo. Sebagaimana yang terjadi di Gereja Santo Gabriel, umat yang hadir pada misa Minggu petang (5/1/2020) yang dipimpin oleh Romo Alphonsus Setya Gunawan Pr., menyimak dengan serius pesan yang disampaikan oleh Bapa Uskup.

“Kita umat Keuskupan Agung Jakarta memasuki tahun Keadilan Sosial dengan semboyan, Amalkan Pancasila: Kita Adil, Bangsa Sejahtera. Dengan sengaja, Tahun Keadilan Sosial ini kita mulai pada Hari Raya Penampakan Tuhan. Harapannya, ketika kita menjadi pribadi-pribadi yang semakin adil dan ketika bangsa kita semakin sejahtera, wajah Tuhan Sang Kasih, akan semakin nyata.”

Monsiyur Suharyo juga mengajak umat untuk menggali makna Hari Raya Penampakan Tuhan dengan menyimak secara baik kisah Orang Majus dari Timur yang berakhir dengan kata-kata, Mereka pun pulang ke negerinya, lewat jalan lain.

“Secara simbolis, kata-kata itu dapat diartikan secara lain. Siapapun yang benar-benar mengalami penampakan Tuhan, artinya mengalami Kasih dan KerahimanNya, dia tidak akan lagi hanya menapaki jalan hidup yang sama. Pengalaman perjumpaan dengan Tuhan selalu mengubah dan membarui, serta membuahkan sukacita. Ini berlaku baik untuk kita masing-masing, sebagai pribadi, keluarga, paroki maupun keuskupan bahkan gereja semesta,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengatakan Keuskupan Jakarta pun berusaha untuk terus menerus membaharui diri. Kesadaran untuk terus memurnikan dan membarui diri ini, lanjutnya, diungkapkan dengan jelas dalam ajaran gereja (Konstitusi Dogmatis Tentang Gereja No.8-red), yang berbunyi, “Gereja itu suci, dan sekaligus harus selalu dibersihkan serta terus menerus menjalankan pertobatan dan pembaruan.”

Ajaran gereja yang lain tentang pemurnian dan pembaruan ini pun tertuang dalam Konstitusi Pastoral Tentang Gereja di Dunia No.1 yang berbunyi, “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang -orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan orang-orang yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga.”

Monsiyur juga menyitir ucapan dari Paus Fransiskus tentang pembaruan yang menyebutkan, “Pembaharuan yang kreatif akan muncul ketika kita hidup atas dasar nilai-nilai Injil. Kapanpun kita berusaha kembali kepada sumber dan memulihkan kesegaran asli Injil, jalan-jalan baru muncul, lorong-lorong kreatifitas baru terbuka dengan berbagai bentuk ungkapan, tanda-tanda dan kata-kata yang lebih fasih, dengan makna baru bagi dunia dewasa ini.”

Paus Fransiskus juga dikutip, “Saya lebih menyukai gereja yang memar, terluka dan kotor, karena telah keluar di jalan-jalan, daripada gereja yang sakit karena menutup diri dan nyaman melekat pada rasa amannya sendiri.”

Monsiyur mengutip Paus Fransiskus lagi, “Sukacita dalam mewartakan Yesus Kristus diungkapkan baik dengan kepeduliannya untuk mewartakannya ke wilayah-wilayah yang lebih membutuhkan bantuan, maupun dengan senantiasa bergerak keluar ke daerah-daerah pinggiran dari wilayahnya sendiri atau ke lingkungan sosial budaya yang baru.”

Dinamika pertobatan dan pembaruan di KAJ, telah dirumuskan dalam tiga kata: Semakin beriman, semakin bersaudara dan semakin berbelarasa. Dan tahun ini, umat Katolik di KAJ ingin menghayati dan mewujudkan nilai-nilai sila kelima Pancasila dengan semboyan: Amalkan Pancasila: Kita Adil, Bangsa Sejahtera.

Wujud konkritnya, umat Katolik diajak untuk berani pergi ke wilayah-wilayah pinggiran kepada saudari-saudara yang terpinggirkan, seperti mereka yang tidak memiliki akta kelahiran atau KTP sehingga tidak dapat memperoleh hak-hak mereka sebagai warga negara. Juga mereka yang tidak memiliki rumah, tinggal di jalanan, di bawah jembatan layang atau gerobak-gerobak sampah yang menjadi korban perdagangan manusia.

“Mereka adalah saudari-saudara kita, anak-anak kita yang belum menikmati Keadilan Sosial,” ungkap Monsinyur.

Ia pun mengatakan, KAJ boleh bersyukur karena perutusan untuk pergi ke pinggiran semakin dikembangkan secara kreatif dalam berbagai gerakan belarasa. “Kita yakin sekecil apapun yang kita lakukan, itu adalah sebentuk keterlibatan kita dalam pembaharuan keuskupan kita, dan tanggapan kita terhadap panggilan Tuhan untuk bertumbuh menuju kesempurnaan kasih dan kepenuhan hidup Kristiani.”

Uskup Suharyo juga berpesan, tugas yang tidak boleh terlupakan adalah merawat dan mengembangkan kesadaran akan keadilan iklim. Ini adalah bentuk sikap adil manusia terhadap alam semesta. Tanpa sikap adil terhadap alam semesta, saudari-saudara yang secara sosial ekonomi sudah terpinggirkan akan semakin terpinggirkan dan makin menderita.

“Gerakan kepedulian terhadap lingkungan hidup yang tentu saja berkaitan dengan pemanasan global, perlu terus dilakukan tanpa kenal lelah.”

Monsiyur dalam penutup surat gembalanya menekankan hal ini karena kepedulian terhadap lingkungan hidup memiliki korelasi yang erat dengan keadilan sosial. (Ferdinand Lamak)

LOGO TAHUN KEADILAN SOSIAL 2020

 

 

 

 

Menutup Pendalaman Adven di Taman Doa Regina Rosari

By Deny Kus Indarto,

Memasuki masa Adven yaitu masa menyambut Kelahiran Tuhan Yesus, seperti biasa di setiap lingkungan di paroki mengadakan pendalaman iman adven selama 4 kali pertemuan. Demikian juga Lingkungan Santo Albertus, Paroki Pulo Gebang, kali ini menutup pertemuan adven ke-4 dengan mengadakan ziarek ke Cirebon.

Sabtu (14/12/19) pagi, sebanyak 28 umat Lingkungan Santo Albertus berangkat bersama dari Pulo Gebang Permai menuju Cirebon. Di awali dengan doa bersama, lalu kami menikmati perjalanan selama empat jam menuju Cirebon. Sesampainya di Cirebon, tujuan pertama kami adalah Taman Doa Regina Rosari.

Taman Doa Regina Rosari merupakan salah satu wisata rohani katolik yang berlokasi di Cirebon. Di dalam Taman Doa Regina Rosari, kami langsung menuju salah satu pendopo yang sudah dipersiapkan untuk mengadakan Pendalaman iman yang ke-4. Pendalaman Iman diawali oleh lagu-lagu pujian yang dipimpin oleh Ibu Tuti Justinus, renungan dipimpin oleh Pak Justinus Soekidjo, dan untuk kegiatan dipimpin oleh Julie dan Maria Taolin.

Setelah Pendalaman iman selesai, kami mengelilingi Taman Doa Regina Rosari. Ada yang mengujungi Goa Maria Regina Rosari, berdoa di Ruang Adorasi, hingga berfoto-foto di taman. Setelah itu, kami menuju salah satu rumah makan chinese food untuk makan siang.

Menutup Ziarek, kami mengunjungi pusat perbelanjaan Batik Trusmi untuk sekedar melihat ragam batik ataupun belanja untuk oleh-oleh. Batik Trusmi merupakan karya seni dari Cirebon yang awalnya mulanya berasal dari daerah Trusmi karena daerah Trusmi sering mendapat pesanan batik dari keraton Cirebon.

Tak terasa, waktu sudah semakin sore. Setelah berbelanja, kami langsung menuju Jakarta. Dalam perjalanan kami sempatkan berhenti di KM 62 untuk malam malam bersama, setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Jakarta dan tiba di Pulo Gebang Permai sekitar pukul 21.30. (Maria Octavia / den)

Semangat Tabut Umat St.Gabriel Menuai Apresiasi

By Christine Lerin,

Pada bulan Desember 2019, tepat 3 tahun Tabut KAJ periode 2016 berakhir. Bersyukur
atas berjalannya Tabut KAJ selama 3 tahun pertama ini, Tim Karya Pembangunan Paroki (TKPP)
Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) mengundang seluruh PIC Tabut paroki di bawah naungan KAJ pada
Sabtu, 14 Desember 2019 untuk menghadiri misa syukur sekaligus acara ramah tamah.

Misa syukur dilaksanakan pada pk. 09.30 di gereja Hati Kudus paroki Kramat dipimpin
oleh Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, Pr. dan dilanjutkan dengan acara syukuran dan ramah tamah
di aula Vincentius. Pada kesempatan ini, TKPP KAJ memberikan penghargaan dalam bentuk piagam
kepada paroki-paroki yang terlibat aktif dalam kepesertaan Tabut dengan beberapa kategori sebagai
berikut ;

Selain itu, sesuai dengan misi Tim Karya Pembangunan Paroki (TKPP) yang artinya
berfokus untuk membantu paroki-paroki yang masih terkendala dana dalam proses pembangunan
baik gereja, pastoran maupun gedung karya pastoral dalam lingkup Keuskupan Agung Jakarta
(KAJ) – paling tidak untuk sementara ini. Apabila seluruh paroki di dalam KAJ dirasa sudah tidak ada
lagi yang mengalami kesulitan dalam pembangunan, sangat dimungkinkan bantuan akan diberikan
lintas keuskupan.

Berikut ini adalah paroki-paroki yang menerima solidaritas dari hasil bunga Tabut KAJ, masing-masing sebesar Rp 1 milyar :

Jl. Malang (St. Igt. Loyola) untuk pembangunan GKP

Kutabumi (St. Gregorius Agung) untuk pembangunan pastoran

Bekasi (stasi Yoh. Paulus) untuk pembangunan gereja

Bekasi utara (St. Clara) untuk pembangunan pastoran

Citra Raya (St. Odilia) untuk pembangunan gereja

Kita patut bersyukur dengan menabung minimal Rp 100,000 per bulan selama 36 bulan
ternyata bunga yang dihasilkan dari seluruh peserta dapat membantu paroki lain yang
membutuhkan. Sampai artikel ini diturunkan, jumlah peserta Tabut dari paroki Pulo Gebang tercatat
sebanyak 620 orang dengan total tabungan sebesar Rp 3,930,436,988,- dan tingkat kepesertaan
rutin/aktif menabung sebanyak 91%. Persentase ini adalah yang paling tinggi jika dibandingkan
dengan paroki lain se-dekenat Timur.

Paroki Pulo Gebang mengucapkan terimakasih kepada seluruh umat yang telah ikut
berpartisipasi menabung di TABUT periode 1. Semoga ke depannya dapat terus ikut berpartisipasi
untuk melanjutkan lagi di periode 2 dan seterusnya. Tuhan memberkati.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Tabut KAJ, silahkan menghubungi

PIC Paroki

Maria Caroline Wiyono (08111552918)

Sita (081262909679)

PIC Wilayah

I. Rietje

II. Milana

III.Linda Santoso

IV. Monika/Vivi

V. Belum ada PIC

VI. Belum ada PIC

VII. Henny Sandra

VIII. Emillia

XI. Inggaryani

XII. Andriyani

XIII. EndangDwiPalupi

XIV. Anna Maria

XV. Belum ada PIC

XVII. Sherly Natalia

 

(Maria Caroline Wiyono)

Senada Itu Indah

By Deny Kus Indarto,

Liturgi terutama Ekaristi merupakan peringatan akan karya Allah Tritunggal untuk mendatangkan keselamatan bagi dunia. Maka liturgi merupakan puncak kegiatan Gereja, dan sumber di mana kuasa Gereja dicurahkan (Lihat Sacrosanctum Concillium, 10, dan KGK 1074).

Jadi bagi kita umat beriman, terutama yang ikut ambil bagian di dalam karya kerasulan awam, keikutsertaan di dalam liturgi merupakan sesuatu yang utama. Tidak bisa kita melayani umat, jika kita sendiri tidak diisi dan diperbaharui oleh rahmat Tuhan sendiri.

Sebagai pelayan umat, seksi liturgi berperan mengatur dan menata perayaan Misa Ekaristi dan menjaga kesakralan yang ada di gereja. Sie liturgi juga mempadupadankan para petugas gereja mulai dari lektor/lektris, pemazmur, pasdior, prodiakon serta tim LCD.

Itulah pesan Romo Soni dalam pertemuan rutin ke-3 Sie Liturgi Se-Dekenat Timur di Paroki Pulogebang, Sabtu (23/11) siang. Hadir 32 peserta dari 9 Paroki dari Dekenat Timur yaitu Rawamangun, Cijantung, Duren Sawit, Cililitan, Matraman, Pulo Mas, Cilangkap, Bidara Cina dan Pulo Gebang sebagai tuan rumah.

Acara dibuka oleh Sub Sie Tim LCD Dektim Bapak Hartono, dan sebagai pembicara utama adalah Romo Soni dari Gereja Santo Bonaventura.

Lebih lanjut Romo Soni menyampaikan tentang fungsi Gereja dan Pastoral. Gereja dengan “G” huruf besar berarti “Persekutuan Umat Allah” yaitu ruang Ekaristi meliputi Altar/Bait Allah, Tabernakel, Panti Imam, Ambo (mimbar), Sakristi dan Ruang Pengakuan Dosa termasuk benda-benda Suci seperti Sakramen Mahakudus, Piala, Sibori serta Bejana Baptis (Sacrarium). Sedangkan gereja dengan ”g” huruf kecil menandakan sebagai struktur bangunan yaitu ruangan-ruangan yang ada di areal gereja.

Pesan Romo, kebersihan benda-benda suci di Sakristi harus tetap terjaga begitu juga gudang untuk menyimpan benda. Seni dekorasi bunga di gereja diharapkan dalam batas kewajaran dan tidak mengganggu prosesi jalannya perayaan Ekaristi misalnya tidak menutupi Altar dan Mimbar.

Romo Soni juga memberikan pengetahuan tentang beberapa Gereja yang mempunyai Relikwi dan Sumur Suci. Relikwi didefinisikan sebagai suatu material, baik berupa bagian tubuh dari para santa-santo atau para kudus yang telah meninggal, dan juga benda-benda yang bersentuhan dengan mereka yang ditanam di Altar Gereja. Sedangkan Sumur Suci atau Sacrarium adalah tempat penampungan barang-barang rohani yang sudah rusak dan tidak layak pakai lagi. Misalnya Rosario, Salib, Patung Yesus, Patung Bunda Maria, dan patung orang kudus lainnya. Mungkin bagian muka, tubuh dan tangan/kaki sudah rusak, sehingga tidak layak di pajang lagi. Semuanya ini telah diberkati oleh Romo, sehingga tidak boleh dibuang sembarangan.

Pertemuan ini berlangsung sekitar 2 jam sehingga tidak semua materi, segala permasalahan dan kendala dapat dikupas dan dicari solusinya. Maka dari itu pertemuan berkesinambungan telah disepakati bersama. Pertemuan berikutnya akan dilaksanakan di Paroki Cililitan.

Mengakhiri pertemuan dengan berdoa bersama, dilanjutkan foto  dan ramah tamah. Dari pertemuan di Pulo Gebang ini, ada keinginan dan harapan semua peserta adalah satu yaitu Senada Itu Indah.

Penulis & Foto : FXMSG